Friday, July 31, 2009

NEGARA AGAMA - KEKUASAAN

AGAMA bukanlah “Alat”. Tetapi, Imani. Dan, tidak mungkin ada Penyerahan Kekuasaan (= Nya). Atau, berbagi (dibaca, Menjadi)

Karena, Penyampaiannya untuk Dipercayai

Sehingga, bukan lah untuk membentuk “Negara” = Berke – Kuasa – an. Pemerintahan lah, yang “dibentuk” (Kuasa dari Pembentuk). Politisasi = Sistim. Namun, apakah ?

— oOo —

Nyaris kita keasikan Retorika saling mempertahankan. Sebagaimana Si Kakek Guru dengan Cucu = Si Murid. Yang berbeda “Hitungan Waktu Idea”

Diperbincangkan, menemukan Kebenaran dari das Sein (”di” manakah) ke das Solen (mana, ya ?). Mendamaikan Pertikaian Kekuasaan dari Yang di Kepala - Yang di Dada. Menentukan Kesucian Dusta Politik

Mestilah hanya Satu Kekuasaan Mendirikan, yang bernama “Negara” itu. Negara Kekuasaan, atau Negara Demokrasi yang kemudian jadi Kekuasaan

Kekuasaan apa pun di Negara, dari Pembentuk Negara, juga berkemampuan membentuk Pemerintahan (bentukan) Negara. Karena, suatu “Ide”. Dari ada ke ada. Dibebaskannya = Politea. Ke Materialisme

Ada di mana ? Suatu tempat, jawaban. Ketika Manusia berketurunan = Masyarakat (Sosial). Pedesaam ke Kota. (Lalu, akan ditangkap Filosof itu, karena mengajarkan Kekuasaan Dirinya. Ke Politisasi)

Suatu Pembicaraan Tujuan. Negara ?!? Atau, ber Negara. Sederhana saja, Negara suatu Ide yang Sosial. Menuju Kebenaran Manusia Sosial

1. Sosial = Kekuasaan di Negara

a. Dari Rakyat ke Pemerintahan menjadi Negara = Demokrasi

b. Sosial = Pembentuk (Kuasa) menjadi Negara – Ide Sosial

2. Pemenuhan Kebutuhan Rakyat menjadi Negara Ekonomik (Produksi)

Sejauh apa Pertarungan Tafsiran Nasional (Kepentingan kepentingan) antara Penganuti (hati hati, agar baca Politikus) Keagamaan dengan Isme – Kekuasaan (selain Demokrasi)

Tentu Negara ke Pemerintahan janganlah Pemaksaan terhadap Manusia. Berdasarkan de – Materi (= Tanpa) Sosial. Diterjemahkan Konseptualisme Politik. Menuju Kepuasan Sifati Individualisme dalam Putusan Negara. Mengandalkan, memakai Bentukan bentukan Kuasa

Dalam Perbuatan Kemanusiaannya, menjadi suatu Negara Sosial bukan hanya dianggap Penyedia Material, namun

1. Sosial Pertahanan Manusia

2. Membentuk

a. Demokrasi (Kekuasaan) ke Ekonomi

b. Sosial Produksi (Kebutuhan)

c. Nasional Industrialisme

3. Politik Rakyat ke Masyarakat Sosialisme

dst

Sosial Falsafati Politik ber Negara , karena didirikannya (oleh) Manusia = Pembentuk. Maka, adalah Kekuasaan jua (Logika). Dan, berkedaulatan = Materialisasi ke Tujuannya (Sosial)

SELESAI

Posted by Front PERGERAKAN RAKYAT DAERAH at 03:57:01 | Permalink | No Comments »

SOSIALISME DI AMERIKA ?

RASIALISME (nyaris !) berakhir, karena Pemilihan (= Kekuasaan) di Amerika. Kekuatan kekuatan “Berperang” (Nafsu) terkendalikan Penduduk atas Kepresidenan

1. Si Pemenang (Ras Campuran) tidak mungkin

memerintahkan Perang dilakukan Militer

Amerika (Kemerdekaan = Sejarah Pembentukan “Negara”) Serikat

2. Sekat sekat politis diberlakukan atas “Hukum” Liberalisasi

a. Mengawasi Keuangan Negara – Ekonomik

b. Putusan putusan Dagang dicegat

– Wilayah wilayah Industrial seluruh Dunia

– Antara Negara negara Bagian (= Zona)

– Perusahaan perusahaan Keuangan untuk Perdagangan

c. Membuka Aturan aturan Perbankan (Fe -> Moneter)

3. Para Gubernur “harus” menyelenggarakan Program program Kenegaraan

Partai Demokrat kah, yang memegang Ekonomi – Kekuasaaan Individual berdasarkan Daerah daerah Pemilih, “menentukan” bentukan bentukan Politik

<Jeda

Terjebak lah Kemanusiaan di Perekonomian “untuk membutuhkan” Kekuasaannya … berlangsung.

Teoritika Logika : Politik menjadi

”Cara”

Menakjubkan ! Suatu cara cara diselenggarakan yang bernama   N e  g a r a   (State). Sebab ?

1. Individualisme = Pelaksanaan

a. Memutuskan

b. Atas Tenaga (= Kerja)

c. Memiliki

2. Alam (Tempat -> Negara)

3. “HAK” (Demokrasi)

a. Bukan sekedar politik

b. Masyarakat (Sosial = Politik)

c. Politik – Nregara -> Industrialisasi

Maka, Sosialisme pun terpolitisasi, menembus batasan batasan Ilmiah Politis. Rasional. Hubungan Sosial – Keuangan. Mempersiapkan Dialektika Ekonomi Negara

<Tutup

SELESAI

Posted by Front PERGERAKAN RAKYAT DAERAH at 03:53:01 | Permalink | No Comments »

PEREMPUAN SOSIALIS - INDUSTRIALISASI

MAMPU KAH ada kekuatan lain ke Tiga antara Individualisme dengan Sosialisme ? Mungkin Perempuan (Kaum) ? Lalu, “kaum” yang Perempuan suatu Kelas ? Tidak. Maksud, kaum belum tentu Kelas

Banyak Pemikir “Kiri” menyatakan Politik yang Sama

“HAK” Perempuan, yang didapatkan Sebab ‘Melahirkan’, tidak menjadi Kewajiban. Karena, Anak Manusia yang Lahir telah memperoleh Sosial Hak di suatu Negara. Berkewajiban lah Pemerintahan untuk Kebutuhannya

1. Perempuan adalah ‘Ibu’

a. Melahirkan (Manusiawi)
b. Mengasihi, menyayangi (= mendidik)
c. Memberi makan

2. Perempuan, Kehidupan, Industrialisasi

a. Tenaganya
b. Ber HAK = Penghidupan, Penghasilan, Pemukiman
c. Pertanian

3. Perempuan di suatu “Negara”

a. Rakyat
b. Terpilih, mewakili Rakyat = Bernegara
c. Keluarga

Ini lah, Sosialisme. Menuju Kekuasaan Rakyat “Miskin”

Tradisionalisasi (Wilayah, Daerah) pun Utopia ke Politik Materialisme, diterjemahkan dalam Kemampuan kemampuan Menyelenggarakan = Berbuat melaksanakan Kenegaraan. Menjadi Pemimpin dan Anggota Parlemen Nasional. Rangkaian Program, yang diajukan Bertujuan Tidak Individualisme Ekonomik. Karena, Perempuan melahirkan. Sosial Hubungan Kekuasaan dengan Produksi

Politisasi dalam kaum berujud Hak Sosialistis (Baca, Kepentingan jadi Politik) ke Kelas. Terbentuk, menganuti Kuasa (Kepemilikan) Rakyat

Apakah Thematika Penulisan ini Dialektis ? Mungkin lah, atau Tidak. Bagaimana kah Keadaan Politik Perempuan Sosialis kini

Terlihat dalam Industrialisasi Ekonomi, yang berlangsung. Ketika Individualisme, mana kah Perbuatan yang Sosial Perempuan (Haknya), walaupun Konstitusif atas Pasal pasal Perempuan yang Manusia, memuatkan

1. Bentukan bentukan Kelas = Demokrasi ke Tujuannya

2. Sosial ke Negara Ekonomi

a. Hak atas Produksi
b. Ekonomi = Keputusan Politik
c. Sistim (= Pakai) Keuangan

3. Penyekatan (Massa) oleh Perempuan atas Ekonomisasi Birokratisme Feodalist

Perempuan (Muda), atau Ibu “yang Beranak” memasuki Kelas Sosialis (sekali lagi, Sosialis), karena didasarkan Tenaga (= Buruh), yang menyelenggarakan Pemenuhan Kebutuhan kebutuhan (Pangan, Sandang, Barang) Masyarakat. Mematuhi Aturan aturan Sosialnya

1. Kemanusiaannya. Hak Azasi

2. Sosial = Tenaganya (Hak)

3. Hak atas Produksi

<Jeda

Perekonomian Liberalisme tidak akan pernah mampu “Membuatkan” Hak Seorang Perempuan mempertahankan Kemanusiaannya. Manusia Perempuan pun bukan lah Rasialistik. Sebab, Kekuasaan Rakyat melalui Badani Ibunya (Lahir)

<Tutup

SELESAI

Posted by Front PERGERAKAN RAKYAT DAERAH at 03:43:48 | Permalink | No Comments »