Sunday, December 31, 2006

About the Preparatory Committee of the National Liberation Party of Unity (KP-Papernas)

About the Preparatory Committee of

the National Liberation Party of Unity (KP-Papernas)

 

The foreign capital domination operated by its Puppet - the Indonesian Government has plundered country’s national Resources, devastated national industry and impoverish people.  Such condition generate the emergence of various people’s organizations as well as broaden the resistance against the anti-people policy in all the sectors and all the regions.  However, it remains fragmentized on the issues and actions that may impede the creation of significant power to combat capital domination.

At the national conference on June 20-21, 2006 , Preparatory Committee of the National Liberation Party of Unity (KP-Papernas) was established to respond to this situation.  It established to unify the people’s power to create a new political alternative power as an effort to answer the problem of the people. “Liberation” reflects a desire to set the people free from the imperialism, and “unity” refers to the party’s strategic project to broaden and deepen the democratic movement. The Party will be registered to the 2009 election to challenge the neoliberal parties.

The Program

So-called as Three banners of National Unity that put forward the following Programs:

·    Repudiate the foreign debt that has absorbed vast amounts of the state budget and prevented the state from modernizing the industrial and technological sectors. It also deprives social programs such as education and health of funding; in 2006, debt repayment absorbed more than 27% of the budget (11% for interest payment and 16% for principal). Only 7% has been allocated for development.

·    Nationalizations of the oil , gas and electricity industries. The country’s energy resources must be controlled by the state with priority given to supporting national industry and public services. Commercialization will only be considered if the domestic industry and the people’s needs are fulfilled. The electricity company has increased its tariffs because of the high price of petroleum and gas. It accelerates the devastation of national industry, leading to more job losses and greater impoverishment.

·    Create jobs through a national industrialization program. Job creation must not depend on foreign and private investment. Workers’ rights have been removed as the government pushes for lower wages. Financial and economic resources are needed for a new national industrialization of basic industries - steel, machinery, electricity, agriculture, pharmaceutical, automotive, train, shipping and telecommunications. This program will require a vast number of workers who, in turn, will benefit from having the work. Workers must also have free access to education and health care.

The founding Members

The national founding members are:
Joining at the national Level are : People’s Democratic Party, the Automotive Workers Union, the Indonesian National Front for Workers Struggle, Unity of Workers Struggle, the National Student League for Democracy, Unity of Buddhist Student, the National Peasant Union, the Urban Poor Union and the Indonesian Transportation Workers Union.
Joining at a local level are: Belawan Transportation Workers Union, (Medan-North Sumatra), Movement of the Poor, Labuhan Batu (North Sumatra), Lampung Street Vendor Union (Lampung Province), Jogjakarta Student Community, Solidarity of Indonesian Students, Amasutra, Lespek Boul, Central Sulawesi Union of the Poor, Forum of Lembata Youth (South East Nusa, NTT), Peasant Community of Rotanolet, Peasant Community of Liavua, Forum of Latena Community and People’s Alliance for Decent Housing.

Structure of The National Committees
ChairPerson : Dominggus Oktavianus
General Secretary : Lukman Hakim
Deputy : Ganjar Krisdiyan
Labor Department : Sulaiman
Student and Youth Department : Rudi Hartono
Farmers and fishermen department : Gigih Guntoro
Urban Poor Department : Marlo Sitompul
Cultural Department : Tejo Priyono
Treasures : Daniel
International Relation : Katarina Pujiastuti (Penulis)

Posted by Front PERGERAKAN RAKYAT DAERAH at 20:07:40 | Permalink | No Comments »

SOSIALISME & KOMUNISME

SOSIALISME DAN KOMUNISME

(Baca : MANIFESTO KOMUNISME, Karl Marx & Friedrich Engels)

Kita di sini tidak membicarakan literatur yang dalam tiap revolusi besar modern selalu menyatakan tuntutan-tuntutan proletariat, seperti tulisan-tulisan Babeuf dan lain-lainnya. Percobaan-percobaan langsung yang pertama dari proletariat untuk mencapai tujuan-tujuannya sendiri, yang dilakukan dalam waktu kekacauan umum, ketika masyarakat feodal sedang ditumbangkan, percobaan-percobaan ini sudah tentu gagal, oleh karena keadaan proletariat yang belum berkembang ketika itu dan juga oleh tidak adanya syarat-syarat ekonomi untuk kebebasannya, syarat-syarat yang masih harus diadakan dan hanya dapat diadakan oleh zaman burjuis yang akan datang. Literatur revolusioner yang mengikuti gerakan-gerakan yang pertama dari proletariat ini sudah tentu mempunyai watak yang reaksioner. Ia memberikan didikan asetisme universal dan didikan persamaan sosial dalam bentuk yang sangat kasar.

Sistim-sistem yang sesungguhnya dinamakan sistim Sosialis dan Komunis, yaitu sistim-sistem Saint-Simon, Fourier, Owen dan lain-lainnya, timbul pada permulaan masa belum berkembangnya perjuangan antara proletariat dengan burjuasi, seperti diterangkan di atas

Para pendiri sistim ini, sesungguhnya melihat antagonisme-antagonisme kelas, dan juga melihat bergeraknya anasir-anasir yang menghancurkan bentuk masyarakat yang sedang berlaku. Tetapi proletariat, yang baru lahir ini, memberikan kepada mereka suatu gambaran dari kelas yang tidak mempunyai sesuatu inisiatif bersejarah atau sesuatu gerakan politik yang berdiri sendiri.

Karena perkembangan antagonisme kelas adalah sejalan dengan perkembangan industri, maka keadaan ekonomi, sebagaimana yang mereka ketahui, masih belum lagi memberikan kepada mereka syarat-syarat materiil untuk kebebasan proletariat. Oleh sebab itu mereka mencari suatu ilmu sosial baru, mencari hukum-hukum sosial baru, untuk menimbulkan syarat-syarat ini.

Aktivitet mencipta dari mereka sendiri harus menggantikan aktivitet sosial; syarat-syarat untuk kebebasan yang ditimbulkan menurut sejarah harus tunduk pada syarat-syarat yang bersifat khayal; dan terorganisasinya proletariat sebagai kelas yang maju secara berangsur-angsur harus tunduk pada terorganisasinya suatu masyarakat yang diangan-angankan oleh mereka sendiri. Sejarah yang akan datang, menurut pandangan mereka, menjadi propaganda dan penyelenggaraan dalam praktek dari rencana-rencana sosial mereka.

Dalam menyusun rencana-rencananya itu, mereka sudah tentu insyaf bahwa mereka terutama memperhatikan kepentingan kelas buruh sebagai kelas yang paling menderita. Mereka memandang proletariat hanya semata-mata sebagai kelas yang menderita.

Keadaan perjuangan kelas yang belum berkembang itu, maupun keadaan-keadaan sekeliling mereka sendiri, menyebabkan kaum Sosialis semacam ini menganggap dirinya jauh diatas segala antagonisme-antagonisme kelas. Mereka ingin memperbaiki keadaan tiap-tiap anggota masyarakat, bahkan juga keadaan golongan yang sudah paling beruntung. Dari itu, mereka biasa berseru kepada masyarakat seumumnya tanpa membeda-bedakan kelas; bahkan lebih suka berseru kepada kelas yang berkuasa. Sebab, jika sekali orang sudah mengerti akan sistim mereka, bagaimanakah orang itu tak akan melihat di dalamnya rencana yang terbaik dari keadaan masyarakat yang terbaik?

Oleh sebab itu mereka menolak segala aksi politik, dan terutama segala aksi revolusioner; mereka ingin mencapai tuiuan-tujuannya dengan jalan damai, dan berusaha dengan percobaan-percobaan kecil yang sudah tentu gagal, dan dengan kekuatan contoh, untuk membuka jalan bagi ajaran sosial baru ini.

Gambaran-gambaran khayal dari masyarakat masadatang yang semacam itu, yang digambarkan pada masa ketika proletariat masih berada dalam keadaan yang sangat terbelakang dan hanya mempunyai pandangan yang bersifat khayal tentang kedudukannya sendiri, adalah sesuai dengan hasrat-hasrat pertama yang naluriah dari kelas itu untuk pembangunan-kembali masyarakat secara umum.

Tetapi tulisan-tulisan Sosialis dan Komunis ini juga mengandung suatu anasir yang kritis. Mereka menyerang tiap dasar dari masyarakat yang sekarang. Oleh sebab itu mereka memberi bahan-bahan penerangan yang sangat berharga bagi kelas buruh. Tindakan-tindakan praktis yang diusulkan didalamnya - seperti penghapusan perbedaan antara kota dan desa, penghapusan keluarga, penghapusan dijalankannya industri-industri untuk kepentingan perseorangan, dan penghapusan sistim-sumpah, pernyataan tentang persamaan sosial, perubahan fungsi Negara menjadi hanya pengawas produksi saja - semua usul ini semata-mata menunjukkan hilangnya antagonisme-antagonisme kelas yang pada waktu itu baru saja mulai timbul, dan yang dalam tulisan-tulisan ini, baru dikenal hanya dalam bentuknya yang permulaan, yang hanya samar-samar dan tidak tertentu. Oleh sebab itu usul-usul tersebut sama sekali bersifat utopi.

Isi Sosialisme dan Komunisme yang kritis-utopi itu mengandung suatu tujuan yang bertentangan dengan perkembangan sejarah. Bersamaan dengan berkembangnya perjuangan kelas dan bersamaan dengan perjuangan kelas itu mengambil bentuk yang tertentu, maka hilanglah semua arti dalam praktek dan kebenaran teoritis dari pendirian khayal yang menyatakan berada diluar perjuangan, dan demikian juga serangan-serangan yang bersifat khayal terhadapnya. Oleh karena itu, walaupun para pencipta sistim-sistem ini dalam banyak hal revolusioner, pengikut-pengikut mereka senantiasa merupakan golongan-golongan reaksioner semata-mata. Mereka berpegang teguh kepada pandangan-pandangan asli dari guru-guru mereka, bertentangan dengan perkembangan kesejarahan yang progresif dari proletariat. Oleh karena itu mereka mencoba dengan konsekwen memadamkan perjuangan kelas dan mendamaikan antagonisme-antagonisme kelas. Mereka masih memimpikan pelaksanaan percobaan dari utopi-utopi sosial mereka, bermimpi tentang membentuk “phalanstere-phalanstere”yang terpencil, tentang mendirikan “Home Colonies” atau mengadakan suatu “Icaria Kecil” - Jerusalem Baru kecil-kecilan - dan untuk mewujudkan segala lamunan ini, mereka terpaksa meminta belaskasihan dan uang dari kaum burjuis. Ber-angsur-angsur mereka tenggelam kedalam golongan kaum Sosialis konservatif reaksioner yang telah digambarkan di atas, berbeda dengan mereka ini hanya dalam hal bahwa mereka berlagak pintar dengan lebih sistimatis, dan dalam hal kepercayaan mereka yang fanatik dan bersifat ketakhayulan kepada pengaruh yang mentakjubkan dari ilmu sosial mereka.

Oleh karena itu mereka dengan keras menentang segala aksi politik dari pihak kelas buruh; aksi yang semacam itu, menurut mereka, hanya dapat terjadi karena sama sekali tidak percaya kepada ajaran yang baru itu.

Kaum Owenis di Inggris dan kaum Fourieris di Perancis masing-masing menentang kaum Cartis dan kaum Reformis.

Posted by Front PERGERAKAN RAKYAT DAERAH at 19:54:11 | Permalink | Comments Off

Tuesday, December 26, 2006

BERITA DUKA

KETUA KPK PRD PEKALONGAN MENINGGAL

Pekalongan - PRD, Hari ini Sabtu 20 Agustus 2004, satu dari ratusan kader Partai Rakyat Demokratik yang berada di Jawa Tengah menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit Budhi Asih, Pekalongan. Saddam Husein (36) yang merupakan Ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik (KPK-PRD) Pekalongan, menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah mengidap penyakit yang sangat lama, selama dia berada dalam tahanan penjara kota Pekalongan. Saddam Husein di tangkap dan di tahan di penjara di Jalan W.R. Supratman, Pekalongan, karena mengungkap kasus terminal gate di Pekalongan pada tahun 2002, akan tetapi oleh rezim dia kemudian dituduh membuat isu SARA dan di pengadilan yang sudah di rekayasa dia dijatuhi hukuman penjara 5 tahun.

Masa-masa dalam penjara adalah awal dari segala penyakit itu datang, fasilitas yang tidak memadai, perlakuan yang tidak manusiawi sampai pada dia jatuh sakit dan masih harus menjalaninya di dalam penjara, tidak ada penangguhan masa tahanan ataupun di izinkan untuk sekedar berobat, sampai penyakitnya kian parah dan baru beberapa minggu yang lalu diizinkan berobat kerumah sakit Budhi Asih, Pekalongan.

Usaha ini sudah terlambat, Saddam Husein yang nama sebenarnya adalah Chuzaeni dan lahir di keraton 36 tahun silam, hari ini menghembuskan nafasnya yang terakhir tepat pukul 16.30 WIB, tadi sore.

Selamat jalan kawan, Selamat jalan Saddam Husein….

Posted by Front PERGERAKAN RAKYAT DAERAH at 08:03:31 | Permalink | No Comments »